Acehnese Press Photo
Foto Cerita

GARAM KU TAK ASIN LAGI

Laut dan sinar matahari membawa berkah bagi penduduk pesisir Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Warga nelayan yang manyoritas kaum perempuan paruh baya tak pernah menyerah beraktivitas dibawah terik panasnya matahari yang menyengat, mereka memamfaatkan dataran tambak untuk mendulang garam curah.

Selama puluhan tahun, para petani dikawasan itu menghasilkan kristal putih yang larut di kuali berukuran satu hingga tigas meter itu mampu memenuhi kebutuhan mereka, dari cengkraman jari tangan merekalah kristal asin itu sebagai penyempurnaan rasa pada setiap makanan.

Namun terkadang mereka lesu, betapa tidak jerih payah para petani garam tidak setimpal dengan penghasilan yang didapat, selain kesulitan saat memproduksi akibat faktor cuaca, kelangkaan kayu yang dipakai untuk bahan bakar harga garam dipasaran pun ditawar dengan harga murah dampak banyaknya garam produk impor.

Senyum ramah terpancar dari Ramlah (47) dan Nur Habimah (55) dua petani garam Desa Lancok, seorang diantara mereka memilah garam yang baru di masak dan satunya lagi   dengan penuh semangat menggarap air laut untuk membuat garam, semangat para petani itu lantaran tingginya permintaan dan kenaikan harga garam yang mencapai Rp10 ribu perkilogram dari harga biasanya hanya berkisar Rp3000 perkilogramnya, para petani menangguk laba optimal.

Sangat sederhana metoda mereka, air laut yang dialirkan melalui parit-parit kecil dari jarak berkisar 250 meter ditampung bundaran dan petak tanah, sebahagian para petani terpaksa menggunakan ember yang dipikul dengan bambu untuk memenuhi sumur kecil yang dibuat tidak jauh dari bundaran tanah untuk mengendapkan kristal garam.

Air yang memenuhi kolam dibiarkan terkena teriknya matahari sampai kadar garam yang terendap bertambah tinggi untuk menghasilkan garam yang berbentuk kristal besar berwarna putih didukung dengan kerasnya permukaan tanah dapat menghasilkan garam yang berkualitas.

Setelah pasir yang disiram kering terbentuk kristal garam, pasir tersebut diangkut ke dalam gubuk tempat penyaringan dari wadah khusus untuk proses filtrasi, pasir pasir itu disiram dengan air garam, air yang keluar atau hasil filtrasi ditampung dalam sebuah wadah.

Tidak berhenti disitu, air hasil filtrasi kemudian dijemur lagi dengan menggunakan lapak dari belahan pohon kelapa berbentuk palung untuk tempat menampung dan menjemur air garam,  dengan mengandalkan teriknya matahari air garam tersebut menjadi keras, kemudian dikeruk menjadi butiran-butiran garam putih dan siap dikonsumsi.

Dalam memproduksi garam, petani garam hanya mengandalkan alam semata dan tekad kuat untuk terus bisa bertahan menghasilkan kualitas garam terbaik, meskipun hasilnya yang mereka dapatkan tidak setimpal, akibat sempitnya pemasaran, tanpa kemasan dan promosi.

“Alhamdunillah harga garam saat ini naik Rp10 ribu perkilogramnya dibeli para tengkulak yang datang kesini, saat ini kami bisa merasakan manisnya harga garam dengan permintaan tinggi, banyak terserap industri dan kebutuhan pengasinan ikan,” kata Ramlah tersenyum sambil membenahi api untuk memasak garam.

Menurutnya, kondisi cuaca terik dalam satu pekan terakhir ini terus dipacu untuk memproduksi garam berkualitas, sebab para petani ketiban pesanan atau permintaan yang tinggi ditengah naiknya harga garam di tingkat lokal dan nasional.

“Karena pengolahan kita secara tradisional, faktor pendukung utama adalah sinar matahari, garam bisa dihasilkan dengan baik saat cuaca selalu cerah, saat cuaca mendung apalagi hujan maka kendala bagi kami dan produksi garam sedikit,” Kata Ramlah bercerita.

Menurut petani garam itu, sejak awal Juli ini, para petani garam dikawasan itu telah menghasilkan 17 ton garam  dari  33 petak tambak garam yang terbentang diarea 4 haktar tambak, petani garam setempat menargetkan hasil produksi garam mencapai 20 ton.

“Untuk satu bulan ini, kami menargetkan bisa menghasilkan 20 ton garam, tapi untuk menyimpan garam dalam kapasitas besar kami terkendala gudang penyimpanan, gudang gudang garam kami masih tradisional, ”Keluh Ramlah.

Saat ini, para petani garam bisa sedikit tersenyum lepas dan bernafas lega setelah sekian lama harga garam anjlok, jauh dari harapan para petani garam yang menghidupi keluarga mereka dari mendulang kristal garam meskipun terkadang garam kami tak sin lagi.

NASKAH: RAMA.

Related posts

Login

X

Register