Acehnese Press Photo
Foto Cerita

KARNAVAL, KEBERAGAMAN PESONA BUDAYA BANGSA

Setiap memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945, menjadi momentum sejarah  bangsa Indonesia. Berbagai acara dan kegiatan menyambut hari Sakral itu dilakukan rakyat Indonesia dari Sabang sampe Merauke, dari Pulang bangka hingga Pulau Rote.

Diantara perayaan bertajuk pesta rakyat dan menyedot perhatian warga adalah kegiatan Karnaval yang menjadi pesta budaya rakyat yang menampilkan arak-arakan budaya nusantara sebagai representasi dari keberagaman suku dan budaya di Tanah Air, dengan semangat api kerja bersama untuk mengisi kemerdekaan.

Pawai karnaval ini menampilkan beragam ekspresi budaya dari seluruh nusantara. Ekspresi budaya tersebut sebagai bentuk cerminan dari jati diri bangsa Indonesia dengan menonjolkan keberagaman kostum peserta, seni tari, musik, dan rupa yang ditampilkan para peserta.

Bagi para peserta karnaval umumnya terdiri dari para siswa dan siswi, Perguruan Tinggi, dan Ormas serta Orsos masyarakat, tentunya mempunyai kepuasan tersendiri apabila tampil sebagai peserta dan menjadi pemenang di ajang parade budaya nusantara ini.

Hal ini mengingat persiapan mereka yang terkesan sangat mapan mempersiapkan diri dengan konstum yang telah dipilih.Begitu juga persiapan beragam jenis kendaraan hias, parade Drum Band, tentunya jauh hari dipersiapkan dengan matang dan teliti, untuk tampil maksimal dan menghibur masyarakat.

Selain itu, bagi para pengusaha rumah kecantikan (salon), penata rias (make over) menjadi nilai tambah ekonomi dalam usaha mereka. Sejumlah peserta karnaval tentu membutuhkan tata rias yang menarik dan cantik, sehingga pesona mereka memberi kesan menarik bagi warga yang melihatnya.Hal ini membuat penata rias mampu meraup keuntingan dua kali lipat daripada hari biasa.

Semua itu merupakan bentuk karnaval dalam hal tradisi. Namun berbeda dengan saat ini, karnaval lebih menarik dan berkembang karena sentuhan industri kreatif. Karnaval bukan hanya menunjukkan tradisi, tetapi juga menampilkan berbagai kreativitas anak bangsa. Contohnya keberadaan kostum-kostum bertema tertentu dalam karnaval. Wajar saja bila Indonesia disebut sebagai negara 1.000 karnaval.

Di Kota Lhokseumawe sendiri, pawai Karnaval ini dilakukan setiap tanggal 18 Agustus, atau sehari setelah perayaan 17 Agustus 2018 dilaksanakan sebagai bentuk kemeriahan menyambut hari kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia. Tepat hari Sabtu (18/08/2018) Pukul 09.00 Wib karnaval budaya ini dilepas langsung oleh Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya beserta unsur Muspida lainnya.

Acara yang dipusatkan di alun-alun kota Lhokseumawe ini, juga turut dihadiri sejumlah unsur Muspida lain, seperti Dandim 0103 Aceh Utara, Kapolres Kota Lhokseumawe, Danlanal Lhokseumawe, Kajari, serta Kadisdikpora Kota Lhokseumawe.

Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya dalam sambutannya mengatakan, karnaval yang setiap tahun dilaksanakan memeriahkan HUT Ke 73 Kemerdekaan Republik Indonesia  adalah upaya menumbuhkembangkan kepada generasi bahwa beratnya para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.

“ Sebagai sarana menumbuh rasa patriotisme, kecintaaan terhadap tanah air, bangsa dan negara. Sebagaimana yang telah dilakukan para pejuang kemerdekaan dari tangan penjajah,” kata Suaidi Yahya.

Membangkitkan daya kreatif itu bisa dengan berbagai cara. Bahan-bahan di sekitar kita dan yang ada di pasar itu bisa jadi sesuatu yang menarik apabila dapat dimanfaatkan oleh anak-anak muda kreatif,” jelasnya

Dengan mengusung tema “Karnaval Budaya Nusantara” ini, diikuti lebih 125 Sekolah mulai dari tingkat TK/SD, SLTP/MTsN, SLTA, serta turut dimeriahkan dengan parade kendaraan hias dari Sekolah Paud/TK sebanyak 50 unit dan atraksi musik dari 9 group drum band di Lhokseumawe.

Cuaca panas dan sengatan matahari tak menyurutkan semangat dan antusiasme ribuan peserta.Cucuran keringat yang membasahi wajah mereka tak mengurangi penampilan cantik dan gagah siswa/i tersebut.Tampilan glamour busana dengan ragam warna warni budaya nusantara, menyedot ribuan warga Kota Lhokseumawe yang telah memadati alun-alun Kota Lhokseumawe dan sejumlah jalan-jalan utama Kota Petro Dolar tersebut.

Ketua Panitia Pelaksana H.Nurdin, S.Ag, MA menyebutkan, dalam pawai karnaval ini, para peserta menggunakan berbagai pakaian adat Aceh seperti adat bugis, mandar, jawa, toraja, dayak, papua serta pakaian adat nusantara lainnya”, selain pakaian adat, ada pula peserta yang menggunakan kostum seperti tentara, polisi, nelayan dan petani” sebutnya.

Dikatakan, karnaval di daerah-daerah harus lebih terencana, berkonsep yang berbeda-beda, dan lebih kreatif. Pengelolaan manajemen produksi, pengelolaan penonton (harus baik) sehingga punya kualitas internasional,” jelas ketua Panitia Karnaval di Kota Lhokseumawe.

Festival karnaval ini, menampilkan beragam budaya daerah, kesenian tradisional dan pakaian adat nusantara yang dikenakan para peserta membuat mereka tampak bangga dan senang menjadi sorotan ribuan pasang mata di sepanjang rute karnaval yang dilalui peserta.

Para masyarakat dan dan orang tua siswa/i sangat bangga dan senang terhadap penampilan anak mereka.Secara silih berganti mengabadikam momen-momen cantik dengan handphone mereka.Disisi lain ada yang membuat mereka tampak sedih, karena sebagian siswa harus digotong karena pingsan, akibat kelelahan. Namun secara keseluruhan pawai karnaval di Kota Lhokseumawe berlangsung meriah.

FOTO :RAMA/18

NASKAH: CLISNA/18

Related posts

Login

X

Register