Acehnese Press Photo
Foto Cerita

Pantai Ujong Blang Eksotis Ujung Pulau

Pantai Ujong Blang adalah salah satu pantai di Kota Lhokseumawe, yang cukup terkenal.PantaiUjong Blang terhampar dari muara sungai Cunda (kualacangkoi) yang meliputi empat wilayah desa yaitu Desa Ujong Blang, UleeJalan, Hagu Barat Laut, dan Desa Hagu Tengah.

Pantai Ujong blang dinamakan berdasarkan desa dimana pantai ini berada. Arti “UjongBlang” sendiri dalam bahasa Aceh adalah “ujong” berarti ujung dan “blang” berarti sawah atau hamparan kebun. Karena pada awalnya, wilayah Lhokseumawe terdiri dari areal sawah, rawa, dan tanah kosong.

Pemandangan matahari terbit atau Sunrise di pantai ini memiliki nuansa tersendiri. Pengunjung akan disuguhkan pemandangan kegiatan nelayan sehari – hari dengan latar belakang pabrik pencairan gas bekas ARUN NGL yang tampak dari kejauhan.

Hamparan pasir dan deru angin sepoi-sepoi menambah suasana pantai ini menjadi indah. Betapa tidak, pemandangan air laut yang kebiruan membuat siapa pun untuk selalu betah duduk berlama-lama di tepi pantai yang terlihat nan eksotis.

Pantai Ujong Blang yang sekarang telah mengalami abrasi yang sangat parah, sehingga  hamparan pantai yang pada awal era 90-an dulu mencapai puluhan meter dari bibir pantai menjadi berkurang drastis.

Namun begitu, Pantai Ujong Blang masih tetap diminati sebagai tujuan wisata para wisatawan lokal dari berbagai daerah di Aceh untuk menghabiskan hari libur, selain karena  jaraknya yang dekat, objek wisata ini juga memiliki fasilitas yang cukup baik.

Senin, (12/8/2019), bersama editor foto Aceh Pressphoto saya berkunjung kesana. Hari itu, hari kedua liburan lebaran Iduladha. Akses menuju lokasi wisata ini biasa dari dua arah, lewat jalan Darusalam dan dari Loskala. Katanya, jika kedua jembatan Cunda dan Loskala putus warga Lhokseumawe yang tinggal setelah jembatan itu tidak bisa pergi kemana-mana.

Kami pergi lewat Jalan Darussalam hari itu, tidak terlalu macet seperti biasanya. Jalan itu begitu sempit, kenderan harus pelan. Kalau tidak ingin tertabrak yang didepan, akibat rem mendadak. Hujan pada hari sebelumnya membuat jalan menuju pantai Ujong Blang itu becek. Ini memang selalu terjadi jika ada hujan turun, air terkenang bisa cukup lama.

Kami memutuskan berhenti di pondok di dekat kuburan. Setelah membayar uang parkir lima ribu rupiah saya melawati pondok rujak yang ramai dan sangat sesak dengan manusia. Langsung menuju pantai, dan melihat pantai yang hanya tersisa dua meteran, hal ini disebabkan air laut sedang pasang. “Kadang-kadang bisa sampai kedai-kedai itu bang,” ujar salah satu penjual bakso bakar di pesisir pantai.

Meskipun diantara garis pantai yang sempit itu, saya melihat banyak wajah bahagia dari orang-orang yang berkunjung di sana. Suasana pantai memang selalu membuat hati senang. Dari muda hingga tua pun ikut mandi di sana, selain memanjakan diri dengan ombak laut, ramai pengunjung terutama anak-anak mengali pasir hitam hingga menjadi kolam mini dan menara , banyak kreasi pasir anak-anak disana.

Mirisnya, sampah-sampah begitu berserakan hari itu, para pengunjung yang membawa sampah langsung membuang sampah di pinggiran pantai, tong sampah seluas pantai. Saya tidak menemukan tong sampah di pinggiran sepanjang pantai itu. Minimnya kesadaran pengunjung memang tidak bisa kita pungkiri, namun kesadaran pemerintah untuk merawat pantai Ujong Blang pun kasat mata.

Naskah danFoto: Adli Dzil Ikram

 

Related posts

Login

X

Register