Acehnese Press Photo
Foto Cerita

PEKIKAN KETAKUTAN BAYI SI KUNTUL

Pekikan Ketakutan Bayi Si Kuntul

Sudah pasti kita semua mengenal dekat burung kuntul dari keluarga Ardeidae, burung ini berkaki panjang, berleher panjang, dan tersebar di seluruh dunia. Burung bernama latin Bubulcus ibis memiliki ukuran tubuh antara 55 hingga 65 sentimeter dengan bentangan panjang sayapnya berkisar 88 sampai 106 sentimeter.

Burung ini sewaktu terbang lehernya membentuk seperti huruf “S” tidak lurus dan memiliki iris berwarna putih dan kulit muka kuning kehijauan, Sementara paruh, tungkai, dan kakinya berwarna hitam, pada dasarnya burung Kuntul memiliki bulu berwarna putih, namun selama musim kawin, bulu-bulu kepala, leher dan punggung berubah warna menjadi kuning jingga.

Dalam bahasa Melayu, burung kuntul disebut Bangau, di Indonesia sendiri istilah Bangau dipergunakan untuk burung dari keluarga Ciconiidae, Habitat burung Kuntul di lahan basah, di pantai atau terumbu karang yang terdapat makanan seperti ikankatak, lalat, serangga air, ikan, dan cacing tanah serta binatang invertebrata lainnya.

Terkadang mereka terlihat sedang mengejar mangsanya di tepian pantai di tempat yang dangkal, berbeda dengan spesies Kuntul kerbau atau Bubulcus ibis yang memakan serangga berukuran besar dan tidak terlalu tergantung pada alam basah.

Mereka membuat sarang dari tumpukan ranting yang tak rapi dan mendatar pada pucuk pohon mangrove disekitar tanah basah seperti empang, sungai dan tambak, saat pulang ke sarang, burung-burung kuntul biasa terbang membentuk formasi V, Tuhan sebagai pencipta telah mendesain alam dan isinya dengan sangat menakjubkan yang bisa disaksikan dan dinikmati keindahan oleh manusia.

Suara kicauan Kuntul kini tak seramai dulu, kawasan lahan basah seperti empang, danau, dan sungai di perkotaan memiliki peran penting dalam menjaga habitat burung ini, seperti halnya di sekitar muara sungai Cunda, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kawasan muara sungai itu selayaknya nya menjadi rumah bagi populasi burung Kuntul yang kini diambang kepunahan.

Sekitar lima haktar lahan basah kawasan hutan mangrove di kawasan muara sungai mulai diratakan dengan tanah timbun untuk pembangunan, satu persatu pohon mangrove tumbang rata dengan tanah, entah apa yang akan di bangun di kawasan itu, butiran putih telur Kuntul berserakan di bawah pohon mangrove, suara anak Kuntul bak teriakan ketakutan tidak henti-hentinya terdengar, begitu pula bangkai induk tersangkut di ranting dan berserakan di bawah pohon manggrove yang akan beralih fungsi. Mereka kehilangan rumah dan tempat hidupnya, burung-burung ini mati, terputus mata rantai dari kehidupan.

Padahal kawasan perkotaan yang masih menyisakan lahan basah dan mau berbagi kehidupan dengan burung air akan lebih indah, kehadiran ribuan ekor bahkan jutaan ekor burung ini telah menambah indahnya wajah kota, apalagi kawasan yang sangat dikenal dengan obyek wisata waduk Lhokseumawe itu berdampingan dengan hutan mangrove muara sungai tempat hunian jutaan habitat Kuntul yang mampu mendatangkan pelancong dari daerah lain.

Tak dapat di pungkiri, habitat burung kuntul di hutan mangrove pesisir Aceh terus menurun akibat penebangan dan alih fungsi lahan yang mengatasnamakan pembangunan.

NASKAH/FOTO: RAMA

Related posts

Login

X

Register