Acehnese Press Photo
Foto Cerita

RANUP SIMBOL KEMULIAAN

Ranup Simbol Kemuliaan

Sore itu, hari menjelang petang seperti biasanya langit mulai memancarkan warna warni sunset, jalan sesak dengan laju kenderaan roda dua dan empat, satu persatu deretan lampu toko toko kota mulai dinyalakan, begitu pun sederetan lapak pedagang yang berada di sebelah utara Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh, mayoritas pedagang kalangan perempuan mulai sibuk menata barang dagangan mereka.

Candaan dan cekikan sesama pedagang menemani aktivitas mereka, dari kalangan perempuan remaja hingga wanita lanjut usia duduk dibawah lampu sambil menata berbagai bahan bak ramuan tradisional seperti “Bungoeng Lawang” (cengkeh), Kapur, buah pinang “Boh Pineung” dan “Oen Ranup” (daun sirih).

Masing-masing daerah di Indonesia, memiliki kuliner khas dan dianggap istimewa bagi masyarakatnya. Begitu juga di Aceh selain kaya dengan beranekaragam adat dan budaya, Ranup merupakan salah satu makanan paling akrab dengan masyarakatnya, baik kalangan muda dan tua yang paling manyoritas memakan Ranup .

Di kawasan sebelah utara Masjid Raya Baiturrahman misalnya terdapat sedikitnya 16 gerobak lapak pedagangan barisan penjual Ranup, selain mencari rezeki para penjual ranup itu secara tidak langsung ikut merawat budaya Aceh.

Ranup adalah kuliner khas Aceh yang oleh masyarakatnya menganggap sebagai symbol memuliakan tamu, perdamainan dan kehangatan sosial, media komunikasi sosial, dan Ranup  menjadi sesuatu yang paling sakral digunakan pada acara pernikahan atau perkawinan.

Bagi masyarakat Aceh Ranup merupakan budaya yang sudah ada Sejak 300 tahun tahun silam, yakni sejak zaman neolitik hingga sekarang. Konon tradisi makan Ranup dibawa oleh rumpun bangsa Melayu sejak 500 tahun sebelum masehi ke beberapa Negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Fatmawati (60), salah satu penjual ranup di bagian utara masjid Raya Baiturahman, mengaku sudah menjual ranup selama 50 tahun yang lalu. Ia mengangap berjualan ranup sebagai profesi yang dijalani selama ia hidup.

Bahan-bahan untuk membat ranupsangat mudah didapatkan di Aceh, seperti daun sirih, buah pinang, dan kapur. Ada dua jenis ranup yang dijual yakni ranup manis dan ranup pahit. Jenis ranup manis di dalamnya dibungkus dengan pinang yang ditumbuk lalu dicampur dengan gula sedangkan ranup pahit di dalamnya hanya dibungkus dengan pinang dan kapur yang memiliki banyak khasiat bagi siapa saja yang memakannya.

FOTO DAN NASKAH

Dzil Ikram

 

Related posts

Login

X

Register