Acehnese Press Photo
Foto Cerita

RAPAI ACEH WARISAN ULAMA FIQIH PERSIA

Rapai bukan hanya sekadar alat musik yang dapat dinikmati pada waktu pertunjukan saja, nanum rapai juga terkandung nilai-nilai tradisi, budaya, pesan moral, kekompakan dan nilai keindahan bagi siapa saja yang mendengar dan menikmatinya.

Pertunjukan seni rapai masih dilestarikan hingga saat ini, bukti bahwa masyarakat yang terletak di ujung utara pulau Sumatera paling barat Indonesia itu berusaha mempertahankan kesenian rapai, meski rapai sempat hilang pada saat Aceh dilanda konflik berkepanjangan, tapi kini gemuruh rapai mulai kembali terdengar memecahkan keheningan malam di Aceh.

Ada beberapa jenis rapai diantaranya rapai pase, rapai debus, rapai geurimpheng, rapai pulot, rapai anak berukuran kecil dan rapai kisah yang kesemuanya merupakan alat musik perkusi tradisional yang dimainkan dengan cara dipukul dengan telapak tangan, tanpa menggunakan alat diiringi lantunan syair syair bernuansa Islami.

Rapai Aceh terbuat khusus dari bahu kayu gelondongan besar yang telah berusia ratusan tahun lamanya, tak heran perajin rapai saat ini sangat kekurangan bahan baku dan hanya bisa didapat dikawasan hutan belantara. Kayu untuk membuat rapai terlebih dahulu direndam agar kayu lebih awet memudahkan pengukiran sesuai dengan jenis rapai yang diinginkan.

Junaidi (35) salah seorang perajin alat musik tradisional jenis rapai di Gampong Blang Weu Panjo, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe yang meneruskan pekerjaaan orang tuanya membuat rapai mengaku, selama ini kesulitan bahan baku sehingga upaya mereka untuk meningkatkan produksi rapai itu pun terhambat.

“Butuh waktu lima hingga tujuh hari untuk membuat satu rapai ditambah hampir semua tahapan dilakukan dengan cara tradisional dengan alat seadanya,”Kata Junaidi, Dia menambahkan, rapai berukuran kecil dan sedang dibuat dari selaput atau membram dari kulit kambing dewasa sementara untuk ukuran besar dibuat dari kulit sapi yang terlebih dahulu diolah dengan cara dijemur lalu dikencangkan dengan rotan untuk menghasilkan suara tinggi ditambah lempengan logam pada bagian pinggir rapai untuk menghasilkan gemerincing suara hingga terdengar 10 hingga 15 kilometer dari tempat rapai dimainkan.

Bukan hanya pada aksi pertunjukkan rapai uroh atau debus, menurutnya rapai juga digunakan pada upacara adat, seperti upacara perkawinan, alat musik untuk mengiringi tarian tradisional bersama instrumen alat musik tiup menyerupai seruling yang disebut Seurene Kale yang terus melekat turun temurun dikehidupan masyarakat Aceh. Alat musik rapai ini dalam sejarah tercatat berasal dari ulama besar fiqih Persia Baghdad dari tahun 1077 hingga 1166 Masehi atau 470-560 Hijriah yang melahirkan beberapa jenis rapai seperti

Rapai Daboeh (debus) yaitu rapai yang mempertontonkan aksi ketangkasan dan kesaktian seseorang kebal dari sentuhan benda tajam dan aksi paling ekstrim itu dimainkan oleh seorang berilmu kebal atau mereka yang ahli makrifat besi.

Rapai Gerimpheng yang dimainkan sambil duduk, diawali memberikan salam seraya  menjulurkan tangan ke depan dan menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan secara serentak sambil memukul rapai dan menyanyikan syair atau akrab disebut ratoeh

Rapai Pulot juga diawali salam dan dilanjutkan dengan akrobatik keahlian membentuk lingkaran bersambung yang diiringi sedikitnya 30 orang pemukul rapai. Rapai Anak, yaitu rapai berukuran kecil yang berfungsi untuk mengadakan suara lebih nyaring.

Dan Rapai Kisah, berhajat menginginkan sesuatu yang diketuai oleh seorang pakar atau dikenal syech bersama puluhan penabuh rapai serentak melantunkan syair-syair yang mengisahkan sesuai hajatan yang sejak ratusan tahun menjadi warisan kesenian masyarakat Aceh.

NASKAH DAN FOTO : RAMA.

Related posts

Login

X

Register